Kalau kenal saya lama, pasti tahu, udah sejak dulu saya mempelajari tentang homeschooling. Saat Thifa masih usia TK, saya bahkan gabung di komunitas homeschooling dan suka ikut beberapa kegiatannya seperti latihan panjat dinding dan market day. Saya juga beberapa kali bahas homeschooling, baik di blog maupun di podcast.
Dari Thifa masuk SD, saya sebenarnya sudah menawarkan dia mau sekolah atau homeschooling. Mengingat saat TK dia semapat mogok sekolah, dan akhinya saya keluarkan di bulan keempat kalau nggak salah, lalu kami belajar di rumah aja. Jadi Thifa itu masuk SD tanpa ijazah TK. Alhamdulillahnya, meski nggak sekolah TK, dia udah bisa baca tulis, itung, dan mengaji.
Saat SMP, dia pernah mau berhenti dan lanjut homeschooling, karena ada masalah sama salah satu kakak kelas yang membuat dia nggak nyaman. Sempet kaya ditunda-tunda lantas akhirnya dia urungkan, nunggu setelah lulus SMP saja.
Dan sekarang lah saat itu tiba. Dia lulus SMP lantas lanjut homeschooling.
TUJUAN HOMESCHOOLING
Sebelum benar-benar menjalankan program homeschooling, kami banyak ngobrol untuk menetapkan tujuan homeschooling. Biar apa? Ya satu biar mantap menjalaninya. Homeschooling ini kan meski sudah cukup familiar di jaman sekarang tapi orang awam masih banyak yang ga paham.
Thifa kalau ditanya mau lanjut sekolah di mana, bingung mau jawab apa. Kadang malah jawab belum tahu. Yaa dia takut mungkin kan ditanya-tanyain lebih lanjut atau dianggap aneh.
Meski homeschooling ini pilihan dia sendiri, tapi tetap harus dikuatkan.
Tujuan kami memilih homeschooling adalah supaya dia punya lebih banyak waktu ke hal-hal yang ingin dia fokuskan. Kalau sekolah formal kan senin-jumat (ada yang sampai sabtu). Pulangnya siang atau bahkan bisa sore. Udah capek, udah nggak punya cukup waktu untuk mengembangkan minat dan bakat. Sementara homeschooling kita bisa atur waktu belajar sendiri. Mana yang belajarnya secukupnya aja, mana yang harus didalami.
HOMESCHOOLING DIMANA?
Langkah selanjutnya adalah mencari PKBM. Kenapa? Karena Thifa tetep pengen dapat ijazah.
Sebenarnya banyak yang nggak setuju kalau sekolah di pkbm disebut homeschooling. Karena kurikulumnya kan tetep ikut dinas. Jadi mau nggak mau semua mapel harus dipelajari. Sementara homeschooling yang sesungguhnya, kurikulum itu kita atur sendiri. Mana yang mau dipelajari, mana yang mau diskip aja. Secara terminologi sebenarnya lebih cocok disebut sekolah non formal sih yaa. Tapi karena sejauh ini orang masih menyebut homeschooling yaudah di postingan ini tetap kita sebut homeschooling aja.
Dulu, setahu saya, kalau kita pengen dapat ijazah, tinggal ikut ujian paket. Jadi bisa daftarnya pas mau ujian. Tapi sekarang, harus daftar dari awal, jadi seperti ikut sekolah juga tapi jalur non formal.
Saya kumpulkan banyak info dari internet juga beberapa teman yang udah homeschooling duluan. Ada PKBM yang gratis, tapi setelah saya cari ternyata di sana harus masuk tiap hari kaya sekolah biasa, mana sekolahnya jauh pulak. Jadi itung-itungan saya, iyasih gratis tapi transportnya mahal yaa sama aja dong. Apalagi masuknya kaya sekolah biasa, lha ngapain homeschooling kalau gitu, kan.
Ada juga yang free SPP, cuma sekali bayar uang pembangunan yang nggak sampai 3juta, tapi tempatnya lumayan jauh, pembelajarannya offline 3kali seminggu dari sore sampai malam. Kayaknya tidak memungkinkan untuk kami, jadi skip.
Akhirnya pilihan kami jatuh ke PKBM Anugrah Bangsa (Ansa). PKBM tersebut punya program komunitas maupun mandiri. Kalau komunitas ya masuk sekolah tapi haya tiga kali seminggu, dan per pertemuan hanya sekitar empat jam. Kalau mandiri, belajar sendiri di rumah, datang ke sekolah saat ujian saja atau ketika ada kegiatan bersama. Ansa juga menyediakan mentor yang bisa datang ke rumah.
Di semester pertama ini, Thifa pilih program komunitas, katanya biar tetep dapat teman. Tapi sebenarnya sih kalau komunitas ini menurut saya esensi homeschoolingnya jadi ilang ya, karena kita ngikut jadwal sekolah. Nggak bisa atur sendiri waktu belajarnya. Ditambah tempatnya mayan jauh dari rumah, naik gojek PP bisa 30-35ribu, hihii. Tapi biarlah semester satu ini dia ikut kelas dulu biar lebih mengenal lingkungan PKBM dan guru-gurunya. Semester depan bisa dipertimbangkan lagi mau tetap komunitas atau mandiri aja.
CARA BELAJAR ANAK HOMESCHOOLING
"Kasihan kalau anaknya homeschooling, di rumah aja, nanti nggak punya temen."
Banyak celetukan-celetukan seperti itu yaa. Padahal homeschooling artinya bukan belajar di rumah, tapi lebih ke pengaturan kurikulum mandiri dari rumah. Kalau sekiranya perlu les di luar ya dileskan dong. Anak-anak homeschooling juga berkegiatan di luar dengan ikut pelatihan-pelatihan dan komunitas.
Untuk Thifa saat ini baru ikut les matematika, karena dia cukup sulit mengikuti pelajaran itu. Belajarnya masih di rumah karena pertimbangan kepraktisan, dan dia udah ikut program komunitas di PKBM.
Kalau ada kegiatan komunitas atau kelas-kelas yang cocok ya diikuti, misal kemarin dia ikut baking class ina cookies. Kebetulan tempatnya kok deket rumah, biayanya terjangkau juga.
Fokus pembelajaran Thifa di semester pertama bahasa Inggris, public speaking, dan pengembangan minat (untuk saat ini minatnya di konten dan menulis). Jadi saya harus mencari kelas atau kegiatan-kegiatan yang cocok untuk tiga hal tersebut.
Bismillah, semoga dimudahkan, dan informasi ini bisa membantu keluarga lain yang ingin menerapkan homeschooling untuk metde pembelajran anaknya yaaa.
No comments:
Post a Comment