Showing posts with label publish media. Show all posts
Showing posts with label publish media. Show all posts

Saturday, January 10, 2015

Cabai Setengah Busuk

Jumat, 31 Oktober sepulang saya liburan di Hotel Grasia Semarang, menemukan majalah Ummi terselip di bawah pintu. Eh kok bisa ada ini, perasaan ngga pernah order deh. Apa jangan-jangan.. naskahku nyangkut ya?

Ternyata bener. Naskah yang saya kirim pada tanggal 7 Sepetember 2014 berjudul "Setengah Busuk" tayang di Ummi rubrik Nuansa Perempuan edisi November 2014. Judulnya ditambahin jadi "Cabai Setengah Busuk". Surprise, soalnya yang pertama, penantiannya sampai tiga bulan tapi yang kedua ini cuma sebulan saja.

Honornya juga cepat sekali ditransfernya, pada akhir bulan Oktober, dan nominalnya naik dari honor yang pertama. Alhamdulillah :)

Kalo kamu punya pengalaman atau opini tentang beragam hal terkait dunia wanita bisa dikirim ke email kru_ummi@yahoo.com. Sertakan foto, scan KTP, biodata lengkap, nomor telepon, dan nomor rekening. Panjang tulisan 300-400 kata. Info lengkap untuk mengirim tulisan ke media bisa dibaca di halaman info media ini ya.

Berikut saya posting sekalian naskah versi aslinya, semoga bermanfaat :)

Saturday, October 11, 2014

Tulisan Pertama di Republika

Sering memantau timeline Facebook ternyata ada manfaatnya juga. Salah satunya, beberapa waktu lalu. Saya menyimak sebuah kabar, tulisan seorang teman tayang di Harian Republika Leisure rubrik Buah Hati yang terbit setiap hari Selasa. Saya serasa tergugah ingin mengirimkan tulisan juga ke sana.

Punya dua anak, satunya bayi dan satunya lagi balita pastilah banyak cerita seputar mereka yang bisa saya jadikan tulisan. Akhirnya saya menulis tentang Thifa, awalnya berjudul "Nasihat Thifa" kemudian diubah sama editornya menjadi "Sentilan Thifa".

Alhamdulillah ini tulisan pertama yang saya kirim di Republika dan langsung dimuat. Tidak perlu menunggu terlalu lama. Saya mengirim tulisan itu tanggal 9 Sepetember, publish 23 September. Lumayan cepat kan.


Wednesday, December 18, 2013

Membimbing Bukan Berarti Memaksa

“Ayahnya dokter, kok anaknya nggak ada yang jadi dokter?” Begitulah bebeapa orang sering berkomentar tentang keluarga mertua saya.

Ayah mertua saya memang seorang dokter. Tepatnya dokter spesialis Patologi Anatomi, dan belum ada seorang pun dari keempat anaknya yang mengikuti jejak beliau.

Anak sulungnya yang merupakan suami saya, bekerja mandiri sebagai ilustrator. Anak kedua sedang menyelesaikan S2 Arsitektur dan saat ini ikut bekerja bersama suami saya sebagai colorist. Anak ketiganya dalam tahap mengerjakan skripsi nyambi berdagang. Sementara anak keempat masih duduk di bangku SMU, itupun sepertinya tidak menunjukkan ketertarikan untuk menjadi dokter.

Kedua mertua saya bukannya tidak mengharapkan anaknya ada yang menjadi dokter. Ibu mertua pernah cerita langsung pada saya, sebenarnya ingin sekali melihat, minimal ada salah seorang anaknya yang bisa jadi menjadi dokter. Tapi, kalau pada kenyataannya anak sudah punya pilihan hidup lain ya apa boleh buat.

Meskipun sedikit kecewa, tapi mereka tetap mensupport kegiatan anak-anaknya selagi positif.

Ketika sulungnya (saat itu belum menikah dengan saya)  baru merintis usaha jasa ilustrasi bersama teman-temannya, mereka tidak berkeberatan garasi rumah dipinjam sebagai kantor. Setiap hari ramai anak-anak muda berkumpul di sana. Tidak jarang pula ada yang bermalam karena tempat tinggalnya jauh. Meskipun sedikit mengganggu privasi tetapi mereka tetap bersedia menampung.